
Berawal dari sebuah data yang temanku curi dari passportku. Ia membagi-bagikan data itu di facebook. Dan akhirnya sebuah konspirasi pun lahir dari sana. Konspirasi untuk membantaiku. Konspirasi mereka hampir serupa dengan konspirasi para imam Yahudi dengan kaisar Romawi untuk menyalib Jesus. Tapi, untung saja mereka tak sampai menyalibku. Padahal salah seorang Imam—bukan imam-imam yahudi tapi imam wahyudin— memberi usul untuk menyalibku.
Aku pun menjadi paranoid yang selalu dihantui oleh paranoia. Otak kiriku terus mencari ide bagaimana caranya aku harus selamat dari konspirasi itu. Dan tentunya, otak kiri mereka juga berpikir bagaimana caranya konspirasi merekah harus berhasil.
Akhirnya, sebuah idepun tercipta. Terinspirasi dari sejarah awal islam. Dimana kala itu, Nabi berinisatif untuk hijrah demi menghindari ancaman para musyrik Makah. Dengan alasan yang sama, yaitu menghindari ancaman, hijrah menjadi pilihanku. H-2, aku berinisiatif untuk meninggalkan Hayy Asyir menuju Qathamiyah. Dengan harapan mereka akan memberiku suaka politik setidaknya selama satu pekan saja.
Tapi, ada curiga bersemayam di dalam hatiku. Teringat kisah Sayyidina Husain AS yang dihianati oleh orang-orang Nejaf, yang semula mereka berjanji untuk mendukung beliau untuk melawan Yazid Bin Muawiyah. Dan di tengah perjalanan menuju Najaf, tepatnya di Karbala, Husain dan rombongannya dibantai di sana oleh pasukan Ibnu Ziyad atas perintah Yazid Bin Muawiyah.
Dari kisah itu, aku menjadi semakin was-was. Jangan-jangan, nanti aku dihadang oleh mereka di mahattah Hayy Asyir. Tamatlah aku! Untuk menghindari kemungkinan itu langsung meng-kontak pihak Qathomiyah. Namun, apa boleh buat. Ternyata mereka juga mengancamku.
Akhirnya aku seperti sebatang kara tak ada yang mau menyelamatkanku. Dan alternatif terakhir adalalah bertahan. Sampai mereka bosan menunggu.
Kursi dan tongkan ku jadikan sebagai penyanggah pintu. Dan kamar yang ku jadikan benteng hanya memiliki satu pintu dan satu jendela. Jadi, salah satu cara untuk mendapatkanku, mereka harus mendobrak pintu itu. Aku pun tertawa menang sambil mendengarkan musik.
Setelah ku rasa semua aman aku mencoba menenangkan diri dengan online. Ternyata mereka juga menyerangkau dari dunia maya. Mereka mengancam akan mengundang Dion Cadorex yang terkenal barbar dalam pembantain. Ancaman itu semakin membuatku tertekan.
Tak lama kemudian, teman sekamarku mengetok pintu dari luar. Dia bilang ingin istirahat. Mula-mula aku gak percaya. Entah mengapa aku mulai mempercayainya. Lalu aku pun membuka pintu itu perlahan. Dan akhirnya dia mendorong pintu dan meringkusku. Aku berontak dan berusaha kabur.
Aku menyesal mempercayainya. Aku sungguh lupa dengan nasehat Don Vito Carleone kepada anaknya Michael Carleone; “orang yang paling dekat denganmu dialah pembunuhnya!”. Seandainya aku ingat nasehat itu mungkin aku akan tetap aman dengan bertahan di dalam kamar.
Hujan telur terus mengenai kepala dan tubuhku. Seperti Leonidas seorang raja Sparta dalam film 300 yang dihujani panah dalam perang terakhirnya. Berbeda dengan Leonidas yang enggan menyerah, aku malah minta ampun.
Aku terus berlari keluar rumah. Dan mereka juga terus melempari aku dengan telor dan berbagai amunisi lainnya. Aku kembali ingat kepada Nabi Muhammad yang dilempari batu bahkan kotoran binatang ketika beliau hijrah ke Thoif. Hingga akhirnya malaikat pun geram dengan ulah musyrikin itu dan menawarkan dirinya untuk menindih mereka dengan gunung Uhud. Akan tetepi Nabi menolak.
Sayang sekali, waktu mereka lempariku dengan telor, malaikat tak menawarkan jasanya. Seandainya malaikat datang dan menawarkan jasanya, aku akan meminta agar mereka ditindih dengan perempuan sudan di depan rumahku.
Tak berhenti di situ saja pembantaian mereka. Setelah aku rasa serangan sudah selesai, dan aku mandi, mereka kembali membantaiku. Mereka menyirami aku dengan campuran sisa bawang mereah, cabai dan bumbu dapur lainnya. Setelah itu mereka menaburkan tepung kepadaku. Waktu itu, aku benar-benar seperti udang goreng atau ayam goreng KFC. Tapi untungnya, mereka tak sampai menggorengku.
Dan terakhir mereka benar-benar barbar. Aku disiram dengan racikan air, sampah yang sudah dipenuhi belatung, bumbu dapur. Adonan itu mereka aduk. Dan merka sirami aku dengan adonan itu.
Bayangkan. Bau busuk racikan itu sama dengan bau sengit bangkai kucing yang mati debelakang kamar mandi.
Tentu saja, nasi goreng buatanku yang beberapa saat sebelumnya aku makan habis aku muntahkan lagi. Sepertinya isi perutku benar-benar dikuras. Semua aku muntahkan. Aku terus sirami tubuhku dengan air untuk menghilangkan adonan itu.
Adonanannya sih hilang. Tapi tidak dengan baunya yang masih kerasan bersarang di rambut gonderong yang ku banggakan. Barulah setelah empat kali aku cuci dengan sampo, bau hitu sudah hilang. Butuh satu sabun untuk menghilangkan bau itu dari tubuhku.
Begitulah hari pembantaianku. Walaupun tak seperti pembantaian Husain, semoga hal itu tak akan terjadi lagi.
Semua itu karena sebuah ritula yang lahir dari sebuah ke-iseng-an dan akhirnya menjadi tradisi sebuah perayaan “Ulang Tahun”. Benar-benar tradisi yang sadis.