Just another WordPress.com weblog

Latest

PUISI PAGI

Pagi datang  dengan puisi

Syairkan lirik dibalik bantal

Selipkan doa dalam kata

Angan mulai bernyanyi

Dendangkan kata hati

Baitkan mimpi

Mimpi yang tak bertepi

Lalu di manakah sang peri?

huh…. tahi kucing dengan peri

Tak usah kau cari

dia tak akan menari

Dan aku benar-benar ingin tertawa sendiri

Hanya sendiri…

Takbir Sumbang


Kalian tampak suci berpakaian serba putih

Sorban kalian juga terlihat anggun

Melilit di kepala dan leher

Tasbih adalah mainan kalian

Oow.. ternyata kalian juga tak lupa pentungan

Ahai… jenggot kalian lebat sekali

Alangkah gagahnya dandanan kalian

Kalian berdandan layaknya pahlawan badar

Tapi sayang kalian bukanlah ahlu badar

Sama sekali bukan

Jubah putih kalian terlihat menyeramkan

Tak ada aora kasih darinya

Bukan cahaya yang kalian bawa

Melainkan sinar

Sinar yang siap membakar

Hey… sadarlah

Sadarlah kawan

Kalian ini bukan pahlawan badar

Sama sekali bukan

Kalian hanya berpura-pura seperti mereka

Nahi mungkar dalih kalian

Amar ma’ruf maksud kalian

Bedebah dengan dalih itu

Persetan dengan maksud itu

Kalian hanyalah tukang pukul

Tukang rusuh

Takbir kalian palsu

Kalian telah ludahi agama damai

Agama yang dibawa sang Musthafa

Kalian campakan pesan damainya

Kalian buang sabdanya ke tong sampah

Apa kalian tidak merasa

Bahwa kalian telah menyalib sang Taha

Kemudian menggoroknya dengan belati jihad kalian

Masih saja kalian bertakbir

Sudah ku katakan takbir kalian bukan takbir mereka

Sama sekali bukan

Takbir mereka adalah auman singa

Yang terhujam dalam hati

Sedang kalian hanya berteriak

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Allahu Akbar

lalu kalian menjadi buas

bringas tanpa belas

kalian berteriak atas nama Tuhan

Tuhan yang mana?

Bukankah tak ada tuhan selain Ar-Rahman?

hey.. hentikan takbir kalian

takbir kalian sumbang

tak lebih dari pekikan himar

Berehentilah

Berhentilah berteriak Allahu Akbar

Kalau kalian sendiri bersikap akbar

Berhentilah berteriak atas nama Tuhan

Dan sadarlah kalau kalian hanyalah preman

Preman yang mengatas-namakan Tuhan

(cairo, 10 August 2010, 04:06)

Senyum Manis

Sejak dari tadi, aku memerhatikan sosok seorang ibu yang lebih pantas disebut seorang nenek. Ibu itu tampak riang bercanda dengan buah hatinya yang masih kecil di luar masjid. Sesekali aku mendengar cekiki-kan dari anak kecil itu. Sesekali dia berlari menjauhi ibunya, lalu berlari lagi kepelukannya. Keduanya tampak bahagia ku lihat.

Aku agak kaget. Ternyata ibu itu merasa kalau dari tadi aku perhatikan dari dalam masjid. Lalu ibu itu melemparkan senyumnya padaku.

Tetes demi tetes air mata meleleh dari mataku. Ada yang lain dari senyum ibu yang memakai pakaian serba hitam itu. Senyum yang  cukup familiar bagiku. Senyum itu menyihirku. Leherku seakan tak mau berpaling dari senyuman ibu itu. Pandaganku seakan terpaku kuat pada senyum ikhlas itu.

Semakin lama senyum itu semakin terasa familiar bagiku. Ya. Senyum itu aku pernah lihat. Tapi di mana? Senyum itu pernah aku rasa tapi kapan?

Tiba-tiba ibu itu berlari menghampiri buah hatinya yang terjatuh. Lalu dengan kecupan mesra sang ibu kembali tersenyum kepada anaknya.

Ahh. Lagi-lagi senyuman itu. Senyuman itu semakin menyihir ingatanku. Memaksaku mengulang jutaan files memori dalam otakku. Membongkar semua history yang pernah terekam dalam ingatan. Tapi di manakah aku pernah melihat senyum itu? Dan kapankah aku pernah merasakannya?

Ibu itu kembali tersenyum padaku dan menganggukan kepalanya. Air mata berderai lagi dari mataku. Bukan karena kasih sayang ibu itu kepada anaknya. Tapi karena senyumannya yang sudah mulai ku kenali.

Senyum ibu itu sama dengan senyum seorang perempuan yang pernah mengecupku dengan penuh sayang. Perempuan yang pernah menyuapkan makanan kepadaku dengan mulutnya. Aku juga teringat ketika aku dipeluknya dengan erat.

Ya, benar. Senyum itu sama dengan senyum ibuku. Sama juga dengan senyum ibu-ibu lainnya kepada anaknya. Senyum ikhlas penuh kasih sayang. Senyum itu membawaku hanyut kepada sebuah masa. Masa di mana segalanya secerah langit biru.

Setelah aku puas memandangi senyuman itu, aku pun memberanikan diri untuk melihat wajah sang ibu. Aku lihat kasih sayang Tuhan di wajah kusam  sang ibu. Bukan hanya itu. Ibu itu memang tidak secantik Luna Maya ataupun semanis Cut Tari. Namun, wajah itu sangat kuat menarik pandanganku. Wajah itu seakan memancarkan aura gaib Sang Maha Indah.

Aku tak tahan lagi menatap wajah  itu. Air mataku terus menetes. Lalu, aku palingkan wajahku dari ibu itu.  Karena jika ku teruskan menatap wajah ibu itu, bisa-bisa aku semakin tenggelam dalam tangisan kerinduan. Hancurlah aku dipasak perasaan cinta. Read the rest of this page »

Hari Pembantaian


Berawal dari sebuah data yang temanku curi dari passportku. Ia membagi-bagikan data itu di facebook. Dan akhirnya sebuah konspirasi pun lahir dari sana. Konspirasi untuk membantaiku. Konspirasi mereka hampir serupa dengan konspirasi para imam Yahudi dengan kaisar Romawi untuk menyalib Jesus. Tapi, untung saja mereka tak sampai menyalibku. Padahal salah seorang Imam—bukan imam-imam yahudi tapi imam wahyudin— memberi usul untuk menyalibku.

Aku pun menjadi paranoid yang selalu dihantui oleh paranoia. Otak kiriku terus mencari ide bagaimana caranya aku harus selamat dari konspirasi itu. Dan tentunya, otak kiri mereka juga berpikir bagaimana caranya konspirasi merekah harus berhasil.

Akhirnya, sebuah idepun tercipta. Terinspirasi dari sejarah awal islam. Dimana kala itu, Nabi berinisatif untuk hijrah demi menghindari ancaman para musyrik Makah. Dengan alasan yang sama, yaitu menghindari ancaman, hijrah menjadi pilihanku. H-2, aku berinisiatif untuk meninggalkan Hayy Asyir menuju Qathamiyah. Dengan harapan mereka akan memberiku suaka politik setidaknya selama satu pekan saja.

Tapi, ada curiga bersemayam di dalam hatiku. Teringat kisah Sayyidina Husain AS yang dihianati oleh orang-orang Nejaf, yang semula mereka berjanji untuk mendukung beliau untuk melawan Yazid Bin Muawiyah. Dan di tengah perjalanan menuju Najaf, tepatnya di Karbala, Husain dan rombongannya dibantai di sana oleh pasukan Ibnu Ziyad atas perintah Yazid Bin Muawiyah.

Dari kisah itu, aku menjadi semakin was-was. Jangan-jangan, nanti aku dihadang oleh mereka di mahattah Hayy Asyir. Tamatlah aku! Untuk menghindari kemungkinan itu langsung meng-kontak pihak Qathomiyah. Namun, apa boleh buat. Ternyata mereka juga mengancamku.

Akhirnya aku seperti sebatang kara tak ada yang mau menyelamatkanku. Dan alternatif terakhir adalalah bertahan. Sampai mereka bosan menunggu.

Kursi dan tongkan ku jadikan sebagai penyanggah pintu. Dan kamar yang ku jadikan benteng hanya memiliki satu pintu dan satu jendela. Jadi, salah satu cara untuk mendapatkanku, mereka harus mendobrak pintu itu. Aku pun tertawa menang sambil mendengarkan musik.

Setelah ku rasa semua aman aku mencoba menenangkan diri dengan online. Ternyata mereka juga menyerangkau dari dunia maya. Mereka mengancam akan mengundang Dion Cadorex yang terkenal barbar dalam pembantain. Ancaman itu semakin membuatku tertekan.

Tak lama kemudian, teman sekamarku mengetok pintu dari luar. Dia bilang ingin istirahat. Mula-mula aku gak percaya. Entah mengapa aku mulai mempercayainya. Lalu aku pun membuka pintu itu perlahan. Dan akhirnya dia mendorong pintu dan meringkusku. Aku berontak  dan berusaha kabur.

Aku menyesal mempercayainya. Aku sungguh lupa dengan nasehat Don Vito Carleone kepada anaknya Michael Carleone; “orang yang paling dekat denganmu dialah pembunuhnya!”. Seandainya aku ingat nasehat itu mungkin aku akan tetap aman dengan bertahan di dalam kamar.

Hujan telur terus mengenai kepala dan tubuhku. Seperti Leonidas seorang raja Sparta dalam film 300 yang dihujani panah dalam perang terakhirnya. Berbeda dengan Leonidas yang enggan menyerah, aku malah minta ampun.

Aku terus berlari keluar rumah. Dan mereka juga terus melempari aku dengan telor dan berbagai amunisi lainnya. Aku kembali ingat kepada Nabi Muhammad yang dilempari batu bahkan kotoran binatang ketika beliau hijrah ke Thoif. Hingga akhirnya malaikat pun geram dengan ulah musyrikin itu dan menawarkan dirinya untuk menindih mereka dengan gunung Uhud. Akan tetepi Nabi menolak.

Sayang sekali, waktu mereka lempariku dengan telor, malaikat tak menawarkan jasanya. Seandainya malaikat datang dan menawarkan jasanya, aku akan meminta agar mereka ditindih dengan perempuan sudan di depan rumahku.

Tak berhenti di situ saja pembantaian mereka. Setelah aku rasa serangan sudah selesai, dan aku mandi, mereka kembali membantaiku. Mereka menyirami aku dengan campuran sisa bawang mereah, cabai dan bumbu dapur lainnya. Setelah itu mereka menaburkan tepung kepadaku. Waktu itu, aku benar-benar seperti udang goreng atau ayam goreng KFC. Tapi untungnya, mereka tak sampai menggorengku.

Dan terakhir mereka benar-benar barbar. Aku disiram dengan racikan air, sampah yang sudah dipenuhi belatung, bumbu dapur. Adonan itu mereka aduk. Dan merka sirami aku dengan adonan itu.

Bayangkan. Bau busuk racikan itu sama dengan bau sengit bangkai kucing yang mati debelakang kamar mandi.

Tentu saja, nasi goreng buatanku yang beberapa saat sebelumnya aku makan habis aku muntahkan lagi. Sepertinya isi perutku benar-benar dikuras. Semua aku muntahkan. Aku terus sirami tubuhku dengan air untuk menghilangkan adonan itu.

Adonanannya sih hilang. Tapi tidak dengan baunya yang masih kerasan bersarang di rambut gonderong yang ku banggakan. Barulah setelah empat kali aku cuci dengan sampo, bau hitu sudah hilang. Butuh satu sabun untuk menghilangkan bau itu dari tubuhku.

Begitulah hari pembantaianku. Walaupun tak seperti pembantaian Husain, semoga hal itu tak akan terjadi lagi.

Semua itu karena sebuah ritula yang lahir dari sebuah ke-iseng-an dan akhirnya menjadi tradisi sebuah perayaan “Ulang Tahun”. Benar-benar tradisi yang sadis.

Sang Pecundang

Bu..

Lihatlah wajahku sudah babak belur

Penuh memar

Tenagaku sudah remuk

Mungkin tulangku juga patah

Bu..

Apakah kau mendengar?

Sesumbarku yang kosong?

Adakah kau mendengar?

Isak tangis dalam hati?

Bu..

Aku kalah

Aku malu bu..!

Aku hancur

Aku tak sanggup lagi menatap mereka

Bu..

Lihatlah lagi aku

Aku masih terlalu lemah untuk mengalahkan aku sendiri

Aku hanyalah pecundang

Pecundang yang sudah terkapar

Tapi masih terbahak

Pecundang yang tidak mau menangis

Bu..

Mereka sudah lari

Mereka meninggalkan aku tersungkur

Bu..

Aku tidak bisa mengejar mereka

Tapi aku tidak akan mati

Suatu saat aku akan duduk

Lalu berdiri

Meraung seperti singa

Tapi bu..!

Aku juga takut

Takut lumpuh dan

Hanya melihat mereka dari kursi roda

TIKUS LICIK DAN KUCING RAKUS

Sewaktu kecil, sebelum saya tidur, ibu mendongengkan sebuah kisah pengantar tidur. Entah dari mana ibu mendapatkan cerita-cerita itu. Ada kalanya ibu bercerita tentang kisah nyata seperti kisah para Nabi AS, para sahabat RA dan kisah-kisa orang soleh lainnya. Namun tak jarang pula ibu mendongengkan sebuah kisah fiktif yang terkadang lucu.

Malam itu, sambil mengeluskan tangannya di kening saya, ibu menceritakan kisah seekor kucing penjaga rumah dengan seekor tikus pencuri makanan yang cukup cerdik.

Sang kucing dipercaya oleh si majikan yang hendak bepergian untuk menjaga makanan dari tikus-tikus. Read the rest of this page »

SAY NO TO KHILAFAH


Pendahuluan

Wacana tentang negara Islam, ternyata bukan suatu hal yang baru lagi. Bahkan, wacana tersebut sudah ada sejak Indonesia baru merdeka dulu. Tepatnya 7 agustus tahun 1949 di mana Sukarmadji Maridjan Kartosoewirdjo memproklamerkan diri sebagai imam atau sebagai pemimpin NII (Negara Islam Indonesia).

Sukarmadji Maridjan Kartosoewirdjo atau yang lebih dikenal dengan S.M Kartosoewirdjo, sejak muda memang sudah aktif dalam organisasi. Berangkat dari menjadi sekretaris pribadi Raden Haji Omar Said Tjokrominoto yang merupakan salah satu tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), akhirnya dia diangkat menjadi sekretaris PSII. Dan dari sinilah dia bepikir bagaimana caranya syari’ah Islam bisa diterap di segala aspek dalam bernegara. Bukan hanya di bidang ekonomi saja. Ia pun bercita-cita mendirikan NII (Negara Islam Indonesia) yang juga dikenal dengan DII (Darul Islam Indonesa). Anggapannya, dengan memiliki institusi yang mengikat dan bersifat memaksa seperti negara, mimpinya untuk mengaplikasikan syari’ah Islam dalam bernegara bisa terwujudkan.

Sebagai konsekuensi dari upaya merealisasikan cita-citanya untuk mendirikan Negara Islam Indonesia, pemerintah mengecapnya sebagai seorang pemberontak dan mengeksekusinya sekaligus menetapkan NII sebagai organisasi terlarang.

Hal serupa sebenarnya juga terjadi di Mesir. Ketika Hasan Al-Banna menyusun kekuatan untuk menegakkan sistim Khilafah Al-Islamiah yang sudah runtuh, diawali dengan mendirikan mendirikan Ikhwanul Muslimin. Sebuah organisasi yang awal mulanya bertujuan dakwah semata. Namun lambat-laun, akhirnya berubah orientasi menjadi sebuah organisasi separatis.

Dan hebatnya, jaringan Ikhwanul Muslimin ini, begitu aktif membentangkan sayapnya. Sehingga dalam kurun waktu beberapa tahun saja, organisasi ini pun mulai meluas hingga menembus daratan Palestina dan Yaman.

Akan tetapi, jauh sebelum cita-cita menegakkan kembali sistim khilafah, Hasan Al-Banna terlebih dahulu tewas tertebak oleh penembak misterius. Adapun para pengikutnya ditangkap oleh pemerintah Mesir. Sekaligus, pada saat itu pula pemerintah Mesir menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi illegal di Mesir. Karena keberadaan organisasi tersebut dianggap bisa mengancam kedaulatan Negara Mesir. Read the rest of this page »